Apa yang kamu rasakan saat melihat warga Palestina tidur kedinginan diantara puing-puing reruntuhan bangunan, akibat bom atau senapan peluru Israel yang menyasar mereka saat melakukan ibadah sholat? Miris, sangat miris.

Itu yang bisa kudeskripsikan, mulai dari usia remaja hingga sedewasa ini, penderitaan mereka tidak ada ujungnya. Memang dalam kitab suci ummat Islam, terkait takdir Palestina itu sudah diatur, lantas setelah kita tahu takdir mereka apa kita hanya diam tanpa usaha?

Kita manusia biasa yang memiliki rasa kemanusiaan. Indonesia sudah mendukung kemerdekaan Palestina sejak dulu negara kita merdeka, Bung Karno bahkan menitipkan pesan agar kita semua bersatu untuk membela mereka.

Lalu, saat Israel akan menginjakkan kaki di Indonesia dalam keikutsertaannya pada Piala Dunia U-20, masak kita harus open house begitu saja tanpa melihat latar belakang Israel sebagai penjajah? No, big no kawan.

Kita harus pegang bagaimana konstitusi negara, yang mengatur bahwa penjajahan di atas dunia itu harus dihapuskan. Senada dengan apa yang diamanatkan oleh Bung Karno.

Bukan masalah sepele mereka hanya “main bola” saja, tapi bagaimana kemanan negara kita dipertaruhkan. Bagaimana Israel akan meracuni kita agar berpihak pada mereka, dengan menghalalkan cara dalam menjajah Palestina.

Itu semua sudah diperhitungkan pemerintah matang-matang, hingga keluarlah keputusan terbaik dengan menolak kedatangan Israel di Indonesia.

Jika sebelumnya aku bercerita tentang kepala daerah Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang menyuarakan penolakan itu, kini ada barisan pemerintah yang semakin gencar menggemakan penolakan terhadap kehadiran Israel di tanah air.

Semua elemen dikerahkan, termasuk mengutus kementerian olahraga dan PSSI untuk melakukan lobbying dengan FIFA.

Plt Menpora Muhadjir Effendy mengungkapkan bagaimana langkah pemerintah, untuk mengajukan syarat ke FIFA agar Israel ini tidak melangkahkan kakinya ke Indonesia. Tak ingin cepat larut dan mengandalkan syarat yang sedang diajukan, ketua PSSI Erick Thohir pun juga turut mengonsultasikan permasalahan ini kepada FIFA.

Pemerintah tidak berhenti dalam mencari solusi, mereka juga tidak membiarkan konstitusi negara hangus begitu saja hanya karena menyepelekan masalah dengan penilaian sebatas olahraga saja.

Tidak hanya berhenti di situ, karena penentangan terhadap Israel juga digemakan oleh Mahfud MD. Menteri Polhukam itu ikut melontarkan tentang ketidakmungkinan Israel untuk berdiplomasi dengan Indonesia, selama Israel tidak mengakui kedaulatan Palestina.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Luar Negeri (Permenlu) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemda. Sehingga, secara resmi Indonesia tidak mengakui adanya negara Israel.

Bukan berarti Indonesia harus mundur dari pertandingan atau kompetensi yang diselenggarakan oleh FIFA. Tapi bagaimana pemerintah mencari jalan tengah agar Israel tidak menginjakkan kaki di Indonesia dan juga negara ini tetap menjadi peserta di dalam pertandingan.

Pemerintah tidak egois dengan mematikan langkah para pejuang sepak bola, apalagi Indonesia ini adalah negara yang aktif dalam segala kegiatan yang diselenggarakan oleh FIFA. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menjalankan dua prinsip yaitu Indonesia tolak Israel tapi masih aktif dalam FIFA.

Lalu bagaimana sikap para capres kita yang juga sedang dalam sorotan publik, ketika masalah besar menimpa negara ini dan rakyat pun juga ikut tersangkutpautkan? Disaat crowded dan hectic begini, Prabowo Subianto justru bungkam.

Dan justru publik digemparkan dengan statemennya yang membela Israel. Ya, dengan seenak jidat dia malah menyuruh Indonesia untuk menerima keputusan Israel yang menginjak dan menindas warga Palestina. Bikin kaget bukan?

Bagaimana itu, Menhan nya RI malah bertolak belakang dengan pemerintah? Yang seperti itu mau dijunjung jadi capres? Kita pikirkan lagi dulu, ya.

Lalu bagaimana dengan Anies Baswedan? Hanya diam juga, tak menanggapi. Justru dia sedang disibukkan dengan safari politiknya. Begitu pula dengan barisan pendukungnya, yang hanya menambah-nambahi narasi kotor saja dengan mencampuradukkan agama. Wes nggak masok alasannya kayak gitu.

Makanya mereka banyak dibully warganet, hingga melibatkan nama si nomor satu, Ganjar Pranowo. Gubernur dua periode itu sudah mendapat gepukan dan serangan dari berbagai pihak. Awalnya memang membuat kaget, tapi setelah dibongkar apa alasan dibalik penolakannya terhadap Israel, sejumlah penggiat medsos pun paham.

Ganjar tidak sembarangan, ia menjalankan misi Joko Widodo untuk menolak kedatangan Israel.

Tak berhenti disitu saja, karena ia memiliki alasan kuat mengapa negara ini harus menolak kehadiran negara penjajah sebengis Israel. Ada pesan Bung Karno yang mengakar kuat dalam memorinya sebagai pemimpin sekaligus kader PDIP.

Tidak seperti Prabowo yang berseberangan dengan negara, dan juga tidak seperti Anies yang justru masih asyik dengan permainan politiknya bersama partai-partai perubahannya. Ganjar masih berpihak pada rakyat, ia tidak ingin membahayakan negara demi kepentingan pribadinya.

Memang dari ketiga capres, hanya Ganjar yang berani dan tegas menyatakan sikapnya terhadap Israel, bahkan ia juga menawarkan beberapa solusi agar Indonesia tetap bisa bermain dalam pertandingan FIFA tanpa kemunculan Israel di tanah air.

Melihat pemerintah yang mengupayakan segala cara demi kebaikan bersama, rakyat dapat menilai mana pemimpin yang hanya mementingkan nafsu politiknya, dan mana pemimpin yang ingin rakyatnya jauh dari mara bahaya meski harus dikoyak dulu dengan fitnah dan cemohan kejam di luar sana.

Dari Mahfud MD hingga Ganjar Pranowo, kita tahu apa yang sedang dilakukan pemerintah untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan juga melindungi negara dari brutalnya Israel yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.