Saya sekarang tahu arti dari sebuah quotes yang berbunyi “Satu kesalahan menghapus seribu kebaikan.” Awalnya sempat tak percaya dengan “cite” tersebut, bahkan kubiarkan lewat begitu saja. Sebab sedari awal memang saya tak pernah mengalami bahkan mendapati situasi semacam itu.

Namun saya dibuat sadar bahwasannya setiap quotes yang diciptakan, tentu memiliki makna yang terkandung. Iya, quotes yang kusebut tadi terbukti dan terpampang jelas dihadapanku. Sempat ragu dengan situasi seperti ini, apakah saya sedang dialam mimpi sehingga sangat tidak mudah untuk membedakan keadaan dunia nyata dengan fantasi buatan.

Faktanya memang situasi seperti itu saat ini tengah disandang oleh Ganjar. Kali ini masalah yang sedang Ganjar lalui berkaitan dengan batalnya ajang Piala Dunia U-20 yang rencananya akan digelar di Indonesia.

Sayangnya karena kurangnya persiapan negara kita dalam memenuhi syarat yang telah ditentukan FIFA, membuat federasi besar yang mendunia tersebut urung dalam memilih Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Sebelumnya alasan dibalik batalnya event Internasional itu secara gamblang telah dilayangkan Ketua Umum PSSI. Namun apalah daya, publik malah lebih tertarik mengkaitkan jika batalnya Piala Dunia lantaran statement Ganjar saat meyerukan penolakan terhadap kedatangan Timnas Israel.

Jari-jemari netizen telah meninggalkan bekas hujatan menohok melalui linimasa media sosial Ganjar. Perlu diakui, jika kekuatan netizen Indonesia memang tiada tanding. Kebanyakan manusia dibumi memang seperti itu, selalu berlaku tamsil akan sesuatu hal yang belum pasti kebenarannya.

Publik seolah-olah melupakan semua kemaslahatan yang telah ditorehkan Ganjar selama hampir dua periode, hanya karena satu statement yang belum tentu itu salah.

Apakah itu merupakan sebuah konsekuensi yang harus diterima kala ingin menyelamatkan keutuhan serta perdamaian negara, namun disalah artikan warga se-Indonesia? Entahlah, barangkali reaksi berlebihan rakyat akibat rasa kecewa lantaran gagalnya perhelatan Piala Dunia.

Sekarang gini saja deh, saya tidak naif dan saya tak akan melakukan pembelaan apapun. Sebab pribadi saya sendiri sangat jauh dari kata sempurna, saya hanya seorang manusia biasa yang tak luput dari dosa.

Bagi kalian yang mengumpat itu apakah tak pernah melakukan kesalahan? Sebenarnya marah, kesal, jengkel itu wajar, namun jangan sampai menimbulkan kegaduhan yang berlebihan. Apalagi turut menggiring opini publik jika memang Ganjar lah dalang dibalik pembatalan Piala Dunia.

Mengapa hanya Ganjar yang mendapatkan serangan brutal? Sempatkah publik ikut merenungi mengenai seberapa besar kesiapan serta kematangan Indonesia dalam menyambut Piala Dunia? Mulai dari venue hingga tingkat keamanan serta keselamatannya juga perlu diperhatikan.

Ingat Ganjar itu sama seperti kita, hanya manusia biasa yang pastinya punya salah. Tak ada jaminan jika mereka (netizen) lebih hebat dari Ganjar. Karena rasa kekecewaan yang mendalam dari supporter bola, membuat serentak mencoba menjatuhkannya dengan cara membabi buta.

Dari segelintiran kandidat capres, hanya Ganjar yang masih berdiri tegak walaupun badai telah bersikeras menghajarnya. Ganjar lah yang masih menjadi terbaik dari kandidat lain.

Pernahkah kita dapati seorang pemimpin yang dengan lantang menyuarakan “Dia komunis, minggat. Dia khilafah, minggat”? Mungkin tidak ada, sebab hanya Ganjar yang berani secara lisan melantamkan seberapa besar bahayanya serangan kaum radikal.

Perlawanan Ganjar dalam menentang keras kaum radikal, rupanya tak luput dari peran Jokowi yang ikut turun gelanggang guna memberantas ormas radikal yang sempat merajalela di Indonesia. Selama kepemimpinan Jokowi, beliau telah membubarkan dua kelompok radikal sekaligus.

Jika hal tersebut kiranya masih abu-abu dimata rakyat, Oke lah, anggap saja Ganjar kurang pas mengenai statement yang dinilai blunder hingga menyebabkan gagalnya gelaran Piala Dunia.

Hanya satu pertanyaanku. Jika seandainya event Piala Dunia tetap diselenggarakan tanpa mempertimbangkan venue hingga keamanan, serta menanggalkan kecaman kaum radikal yang awalnya telah melayangkan ancaman akan memblokade beberapa tempat. Apakah akan menjamin keselamatan serta keamanan pemain bola hingga penonton?

Walaupun Indonesia tak kekurangan aparat keamanan, namun tetap saja itu menjadi pertimbangan berat bagi FIFA. FIFA menjadi penanggung jawab penuh atas keamanan pemain serta penonton selama pertandingan berlangsung. Maka dari itu, setelah pertimbangan matang dari FIFA, lebih baik mencopot Indonesia sebagai tuan rumah daripada timbul perang antar saudara.

Lalu setelah mencabut dukungan, kemanakah simpatisan Ganjar akan pindah haluan? Apakah ke Prabowo yang rekam jejaknya dimasa lalu tak lepas dari peristiwa tahun 1998? Atau malah ke Anies yang sejatinya tak luput mendapat dukungan dari banyaknya kaum radikal?

Atau bisa jadi pindah ke Ridwan Kamil yang dulunya menyetujui eks.kelompok teroris kembali pulang, walaupun mereka (teroris) telah dengan sengaja membakar paspor WNI? Kira-kira kalian akan menyerahkan bangsa ini ditangan siapa?

Mereka semua tak lebih baik dari Ganjar. Belum tentu kandidat capres lain bisa melanjutkan mandat Jokowi. Selain itu, yang memiliki visi-misi serupa dengan Sang Presiden ialah Ganjar.

Jika dipikir-pikir ulang, saya lebih mantap pada arahan Jokowi yang dulu sempat menyinggung rambut putih dan ada kerutannya. Tak perlu saya sebut, teman-teman bisa menjawabnya sendiri di dalam hati.

Kita tunggu saja Ganjar buka suara dan meluruskan semua masalah yang ada. Semoga Tuhan senantiasa selalu memberikan kita kesehatan serta ke-warasan. Agar kelak ditahun yang akan datang kita tak salah dalam menentukan arah.