Aku tak pandai dalam membaca sandi maupun kode-kode. Pantas bukan jika nilaiku Pramuka tidak pernah lebih dari angka 7. Jangan tanyakan tentang kode dalam hal lain lho ya, hahaha.

Memang persoalan membaca sandi atau kode payah, walaupun begitu ada rasa kepoku yang mengawaliku untuk membaca kode-kode tersembunyi di balik potret Ganjar Pranowo menyambut Joko Widodo yang tiba di Solo. Interaksi dua pemimpin itu berhasil menarik atensi publik.

Menggemparkan publik, dan pastinya membuat sebagian orang yang berseberangan menjadi panik. Ada apa gerangan dengan dua pemimpin itu, bukannya kemarin habis marah-marahan? Hahaha, marah karena apa? Jangan salah menilai, itu buktinya mereka baik-baik saja.

Tersiar sebelumnya keduanya berbeda pendapat tentang persoalan Piala Dunia U-20 di Indonesia, tapi hal tersebut tidak menyurutkan rasa persaudaraan yang terjalin antar sesama kader PDIP itu.

Kali ini ada yang beda dari penyambutan biasanya, tepatnya pada kostum yang dikenakan gubernur dua periode itu. Keseringan memakai batik, bukan berarti dia tidak mencintai seni selain batik, ia kerap tampil beda juga dengan baju-baju daerah. Dan kemarin saat menyambut Jokowi, Ganjar memakai baju adat suku Samin.

Dibalut atasan hitam tanpa kerah dan celana hitam panjang, serta belitan kain yang diikatkan di kepalanya membuat lengkap ootdnya sebagai gubernur dari warga di Blora. Berangkat dari rasa kepo, buru-buru aku cari makna di balik penampilan Ganjar itu? Dan yeah, rasa kepoku bersambut.

Tidak sia-sia memelihara rasa itu, karena kepo menjawab rasa penasaran yang mendera benakku dan sebagian dari kalian dong. Banyak pesan yang disampaikan Ganjar, lewat baju yang ia kenakan.

Ia memperlihatkan eksistensi suku Samin yang mendiami pedalaman Blora, di wilayahnya memimpin. Banyak keunikan dari mereka, dan pastinya menjadi teladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mereka menganut ajaran yang menjunjung tinggi kejujuran, dan anti klub-klub sombong. Ganjar menunjukkan bagaimana sikapnya sebagai kepala daerah Jawa Tengah, jujur dan tidak sombong sehingga terhindar dari tindakan semena-mena. Cerita lengkapnya, Samin adalah bagian dari warga yang menentang kesewenangan.

Hal tersebut juga tercermin selama Ganjar menjabat sebagai gubernur. Bersama Boy Wiliam, Ganjar menceritakan bagaimana tips bahagia ala dia. Simple, jadi orang biasa-biasa saja, tidak usah memperlihatkan jabatan, bertindak sewajarnya biar tidak ada kesewenangan antara pemimpin dan yang dipimpin.

Masih ada lagi ternyata cerita panjang dibalik suku Samin, mereka gemar berpergian dengan jalan kaki. Aku menangkap sinyal itu pada diri Ganjar. Ia sudah berada di dunia politik tidak hanya satu-dua tahun saja, tapi sudah bertahun-tahun.

Tidak perlu lah yang namanya nafsu hingga lari-lari untuk mengejar kekuasaan, nikmati saja prosesnya. Jika memang jabatan itu nanti menjadi takdirnya, ya syukuri dan jalani, jangan berlebihan karena amanah bukan untuk gaya-gayaan.

Oh ya, tau alasan di balik gemarnya orang Samin memilih jalan kaki daripada harus repot-repot keluarkan uang untuk biaya transportasi?

Jawabannya untuk menghindari pertengkaran. Karena uang menjadi salah satu sumber masalahnya, makanya tidak usah serakah sampai bertengkar karena uang ya. Karena rezeki sudah ada yang mengatur takarannya, jadi tidak akan tertukar, hehehe.

Ehe jangan lupakan juga bagaimana tingginya rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh warga Samin. Beda dari suku-suku lain yang biasanya menetap pada satu tempat, suku Samin ini warganya tidak tinggal bergerombol.

Mereka berpencar dan berbaur dengan warga Jawa Tengah lain. Dalam kehidupan sosial warga Samin tidak pernah membeda-bedakan antara orang yang berasal satu suku dengannya, ataupun orang luar.

Mereka menganut prinsip "ono niro mergo ningsung, ono ningsung mergo niro" (saya ada karena kamu, kamu ada karena saya). Prinsip itu tertancap kuat dalam kepala dan hati mereka. Prinsip itu yang membekali mereka, agar tidak sembarangan mengambil apa yang bukan menjadi haknya.

Mereka tidak suka haknya dirampas, untuk itu mereka juga tidak sewenang-wenang mengambil hak orang. Ya sebelas dua belas dengan antinya mereka dengan kesewenangan.

Sebagai seorang pemimpin, Ganjar memiliki prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Senada dengan sikap yang ia tunjukkan kepada publik bagaimana mengekspresikan rasa kemanusiaan. Bukan hanya ada dalam diri kita sebagai seorang insan, tapi juga diterapkan dalam kehidupan. Peduli antara satu dengan yang lain menjadi yang utama.

Seperti saat melihat saudara kita yang merasa kesusahan di sana, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu mereka. Menyuarakan hak mereka adalah satu tindakan nyata yang dilakukan Ganjar. Begitu pula yang dilakukan Jokowi, untuk menegaskan sikap dalam membela mereka apapun yang terjadi.

Seperti apa yang digelorakan warga Samin kepada barisan penjajah, agar tidak merampas hak-hak mereka. Karena tindakan penjajah tidak sesuai dengan peri kemanusiaan. Prinsip lain yang mereka tegakkan ini menolak segala bentuk kekerasan.

Sebutannya sedulur sikep, sikap itu berhubungan dengan apa yang dilakukan mereka ketika menghadapi kolonial Belanda. Mereka pribumi asli, terkenal dengan keluguannya, tapi mereka tidak suka dengan hal-hal yang berbau kecongkaan.

Sikap tegas warga Samin ini sama dengan yang ditunjukkan Ganjar belakangan ini. Dia itu kepala daerah, berprinsip sudah menjadi pilihannya.

Wong pemimpin kok gur melu-melu, ajur noh rakyate.

Begitulah kiranya penegasan yang ia lemparkan. Tapi tidak lupa dengan tanggungjawab atas setiap keputusan yang diambil lho, ya.

Menurutku sendiri, begitulah seharusnya seorang pemimpin, bukan hanya diam melihat sesuatu yang berbenturan, harus menjadi penengah, agar semua berjalan tanpa mengganggu komitmen negara.

Wuah, cukup panjang bukan pesan tersirat dibalik baju yang dikenakan Ganjar. Terlepas dari semua, kedua pemimpin itu memperlihatkan bagaimana perbedaan pendapat tidak boleh disikapi dengan alot. Semua kembali pada dasar negara, saling menghargai pendapat sebagai pengamalan sila-sila dalam Pancasila.