Hari ini aku banyak melewatkan beberapa agenda perkuliahan. Rasanya sangat tidak produktif sekali aku dihari secerah ini, entah karena malas atau sedang banyak memikirkan sesuatu. Aku masih begitu sulit untuk membedakan kedua hal tersebut. Dibilang malas pun juga tidak mungkin, sebab aku masih sempat mengerjakan beberapa tugas penting yang diberikan oleh dosenku.
Sepertinya memang aku tengah banyak pikiran. Sebab akhir-akhir ini aku dibuat kalut lantaran mendengar berita mengerikan berlalu-lalang didepan mataku. Kabar menghebohkan itu memuat tentang aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar serta ada pula serangan di Mabes Polri oleh seorang perempuan.
Dua rentetan peristiwa yang terjadi itu membuatku gelisah. Aku pun dibuat bingung dan bertanya-tanya tentang alasan dibalik tindakan brutal mereka. Berdasarkan artikel yang ku telaah, aksi yang mereka tunaikan adalah simbol perjuangan melawan kekafiran atau bisa disebut dengan berjihad.
Fakta kembali mengungkap, jika aksi seperti itu tidak hanya berlaku di Indonesia saja. Melainkan diseluruh belahan bumi ini tentunya ada aksi-aksi semacam itu. Seperti contohnya pembantaian suku Rohingya yang dilakukan oleh kelompok militer dan nasionalis Budha di Myanmar.
Dari sini bisa diartikan, seandainya paham radikalisme terus dilakukan, kedepannya tentu akan berujung pada tindakan terorisme. Hal ini bisa terjadi dan dilakukan oleh kelompok sosial ataupun diluar kelompok muslim.
Paham radikal memang bisa dilakukan oleh siapapun, termasuk para politisi maupun pejabat-pejabat tinggi negeri ini. Barangkali saja sebagian rakyat Indonesia sudah tahu siapa saja yang kiranya pernah menjadi bagian dari aliran radikal. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Akankah masih ada yang menyangkal dengan kebenaran ini?
Track-record memang tak akan pernah hilang. Bagi yang masih belum percaya akan fakta tersebut, publik diperbolehkan untuk mengulik-ngulik mengenai keterkaitan dua sahabat yang dahulunya solid itu dengan ormas radikal. Dengan begitu masyarakat akan tahu seberapa dekat hubungan Prabowo-Anies dengan kelompok tersebut.
Sebagai bukti agar tidak dinilai mengada-ada. Apakah masyarakat masih ingat siapa pendukung dibelakang Anies kala maju Pilgub DKI 2017 lalu? Selain didorong Prabowo, nyatanya Anies juga mendapatkan support system dari mereka yang sering disebut dengan FP*, HT* dan kawanannya.
Aksinya yang didukung oleh kelompok radikal, menghantarkan Anies pada singgahsana gubernur DKI dan mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Selesai membantu Anies memenangkan Pilgub DKI. Prabowo juga tak ingin kalah untuk kedua kalinya, dirinya kali ini harus berhasil menggapai kursi presiden. Demi mewujudkan libido politik yang sudah diujung ubun-ubun, lagi-lagi Prabowo meminta uluran tangan dari kelompok radikal untuk kembali membantunya memenangkan kontestasi Pilpres 2019.
Kala itu Prabowo dipasangkan dengan Sandiaga Uno. Keduanya tak memiliki latar-belakang islam seperti paslon Jokowi-Ma’ruf Amin. Maka dari itu, Sandiaga Uno melakukan menuver politik dengan cara mendekati ulama radikal.
Tentunya bantuan tersebut tidak gratis. Para kelompok radikal ini juga menaruh harapan, jika seandainya Prabowo-Sandi terpilih, aliran islam yang mereka (radikal) yakini dapat dilegalkan. Tak sampai di situ, aku pun teringat dengan pernyataan Prabowo yang sangat membuatku tercengang.
Prabowo pernah berkata “begitu saya menang, saya akan kembalikan Hab** Rizi** Shiha* kemarin.” Itulah yang diucapkan Prabowo kala berpidato kampanye Pilpres 2019 lalu.
Ambisi untuk menjadi presiden sudah meluap-luap dalam dirinya. Prabowo sampai tak ingat siapa sosok yang akan dikembalikannya itu, figure yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia malah diusahakan mati-matian untuk kembali dipulangkan.
Namun nasib berkata lain, kekuasaan Indonesia lagi-lagi jatuh ditangan orang yang tepat. Negara ini kembali dinahkodai oleh Jokowi. Dimasa kepemimpinan Jokowi, dengan berani Sang Presiden telah membubarkan ormas-ormas yang mengusung paham negara khilafah dan anti Pancasila.
Lantas siapa yang akan meneruskan gebrakan Jokowi setelah masa baktinya selesai? Kekhawatiranku kembali memuncak ketika memikirkan hal itu. Pribadi ini tak ingin jika dibawah kendali pemimpin yang salah, Indonesia kembali memunculkan kelompok-kelompok dengan paham radikal.
Tiba-tiba saja kawanku yang sedari tadi mendengarkan dan mengamati kegundahan hatiku berkata “masih ada sosok yang seperti Jokowi setelah ini, kamu tenang saja.” bisik kawanku. “Siapa?” tanyaku. Sontak kawanku langsung memperlihatkan gambaran visualnya melalui layar HP-nya. Oh ternyata orang tersebut tak lain ialah Ganjar Pranowo.
Sosok yang dianggap perusak mimpi anak bangsa? Sepertinya tidak, justru Ganjar pelindung keutuhan negara. Walaupun banyak yang menilai buruk, namun aku percaya, dibalik aksinya tersebut tentunya terselip maksud baik. Dan hal itu telah diluruskan Ganjar melalui tayangan Mata Najwa.
Apakah sosok ini juga gencar menggebuk kelompok radikal? “Sudah tentu” sahut kawanku. Justru Ganjar lah yang berani menentang bahkan melawan paham radikal secara terang-terangan.
Mr. White ini pernah lantang menyuarakan “…sudah jelas apakah itu yang ditetapkan oleh pemerintah. PK* gak boleh, HT* gak boleh, FP* gak boleh. Tidak sesuai silahkan check out.”
Disaat pejabat-pejabat lain memilih bungkam dan sembunyi untuk mencari aman. Namun Ganjar berbeda, dirinya dengan tegas dan secara blak-blakkan mengingatkan rakyatnya agar tidak sedikitpun mendekati bahkan bergabung atau berafiliasi dengan ideologi yang bertentangan pada Pancasila serta UUD 1945.
Kusebut Ganjar adalah seorang ksatria hebat. berani bertindak dan berani untuk bertanggung jawab. Langkah yang diambil jangkung tersebut sangat pas dan tepat. Sebab gerakan radikal akan merenggangkan kohesi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.
Lekas kutilik, apakah hanya Ganjar saja yang giat melakukan perlawanan pada kelompok radikal. Fakta mengejutkan kembali menamparku, ternyata memang benar jika hanya Ganjar yang selama ini konsisten memerangi kelompok radikalisme.
Ganjar Pranowo tak akan memberi toleransi kepada ormas yang menganut aliran radikal di Indonesia. Sebab jika hal tersebut dibiarkan, akan menjamur ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
Jangan biarkan paham radikalisme tumbuh dan menjalar bebas dalam lapisan masyarakat. Sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa memperkokoh pondasi kesatuan dan persatuan sesuai dengan ideologi negara kita yakni, Pancasila dan UUD 1945.
Ingat!!! Paham radikalisme adalah bom waktu yang akan mengancam serta menghancurkan masa depan bangsa.

0 Komentar