"Semenakutkan itu Anies dimata pendukung Ganjar?”
Saat membaca kalimat tersebut,
sontak saja membuatku terkekeh bukan main. Tidak ada dalam sejarah jika
pendukung Ganjar takut pada Anies. Hanya saja kami risih saat ketentraman kami
diusik dengan hal-hal berbau kepalsuan, seperti bibir lamis Anies.
Seringkali pendukung bayaran
Anies menghembuskan kabar-kabar tak berdasar ke semua timeline media sosial.
Parahnya lagi, barisan simpatisan Anies kerap membagikan informasi HOAX dengan
cara memodifikasi entah itu judul, potongan-potongan video yang disambungkan
dengan bagian video lainnya, dan masih banyak lagi strategi picik yang mereka
gunakan demi membinasakan Ganjar supaya sosoknya tak melulu nangkring dihati
masyarakat.
“Ganjar pencitraan, gak ada
prestasi, bisanya keluyuran, gak pernah ngurus wilayahnya, mentingin medsos,
dan lain-lain” Seperti itulah cuap-cuap manis yang acap menghiasi linimasa
Ganjar. Bahkan, ada yang menganggapnya jika Ganjar melakukan ‘blusukan’
lantaran semakin dekatnya Pilpres.
Huh, sabar-sabar, tetap stay
calm and stay cool. Gak perlu menanggapi kritikan tersebut dengan hati yang
panas. Mengapa? Sebab semua yang ditudingkan adalah SALAH BESAR.
Seandainya Ganjar benar-benar
tidak melakukan tanggung jawabnya, mana mungkin Provinsi Jateng mampu
mengantongi berbagai penghargaan. Misalnya, Penghargaan Pembangunan Daerah
(PPD) 2023.
Perlu diketahui jika dalam
penghargaan tersebut, Jateng menempati peringkat pertama. Artinya, Pemprov
Jateng telah berhasil menjalankan fungsi kepemerintahan, khususnya keberhasilan
dalam reformasi birokrasi.
Pun Ganjar juga kembali meraih
penghargaan sebagai The Best Governor 2023 pada bidang Leading Sustainability,
GCG and Innovation for BPD. Penghargaan tersebut bukan sembarang apresiasi yang
diberikan secara cuma-cuma, melainkan penghargaan tersebut bisa didapatkan bagi
mereka (pejabat) yang turut serta mendorong tranformasi bank didaerah Indonesia.
Suhunya Jateng ini juga
digadang-gadang telah berhasil melakukan inovasi pada Bank Jateng, diantaranya
mencanangkan program bantuan modal usaha bagi pelaku UMKM.
UMKM, salah satu kegiatan yang
juga masuk kedalam segelintiran program Ganjar. Lazimnya, UMKM memang sengaja
diciptakan guna membantu pergerakan roda perekonomian para pelaku usahanya.
Pada tahun 2015 silam, Ganjar
telah menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama bidang Koperasi dan UMKM.
Menariknya, penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Jokowi kepada Ganjar
di Istana Negara. So, bisa dinilai sendiri ya, bahwasannya Ganjar sudah sedari
dulu kerap menerima penghargaan, baik Nasional maupun Regional.
Sampai detik ini pun, Ganjar
masih giat mendorong perkembangan UMKM di wilayah garapannya. Ia juga
memberikan fasilitas berupa Lapak Ganjar dan Hetero Space yang telah berdiri di
tiga wilayah, yaitu Semarang, Solo dan Banyumas. Fasilitas seperti Hetero
Space, sangatlah tepat diperuntukan bagi anak-anak yang ingin meningkatkan
serta mengoptimalkan ke-kreatifan dalam mengembangkan usahanya.
Akibat kesungguhan hati dalam
upaya mensejahterakan warganya melalui kegiatan UMKM, membuat Ganjar dinobatkan
sebagai ‘Bapak UMKM’.
Pada tahun 2023 ini, Ganjar
telah menggandeng Bank Indonesia untuk memajukan Produk Dalam Negeri lewat
event UMKM Gayeng yang bertajuk ‘go GReen, sustAiNable, Digital dan Export’
atau istilah kerennya go GRANDE.
Sebenarnya masih banyak sekali
prestasi-prestasi yang telah ditorehkan Ganjar selama menjabat dua periode.
Namun semua hal tersebut tentunya tak akan pernah nampak dimata para
pembencinya. Di mata mereka, Ganjar adalah Gubernur minim prestasi yang hanya
gemar berlari-lari.
Meskipun kerap dihujat, tak
akan membuat Ganjar patah arang. Justru dari nyinyiran tersebut, membuatnya
semakin gencar untuk terus berinovasi dalam membangun Jateng agar lebih baik.
Apalagi baru-baru ini Ganjar
kembali menyabet penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 12
kali berturut-turut. Mengetahui informasi tersebut, apa gak semakin dibuat
kelonjotan mereka (netizen)? Pasti dari mereka akan menganggap, jika hal
seperti ini sengaja dilakukan jelang Pilpres saja.
Sayangnya, perspektif demikian
tidaklah tepat. Kilas balik kembali menyapaku dan sedikit memberikan petunjuk
padaku. Pada tahun 2011, menjadi saksi bisu awal mula diberikannya penghargaan
WTP kepada Provinsi Jateng. Sejak saat itu, hingga tahun inilah penghargaan
tersebut selalu berpihak pada wilayah Jateng.
Namun rasanya, penegasan
seperti itu sudah pasti akan menjadi hal transparan dimata penghujatya. Mereka
tak akan menerima realitasnya, mereka lebih tertarik dengan informasi-informasi
yang cenderung menuduh hingga memfitnah.
Huh, menyeramkan sekali ya
dunia medsos ini. Bagi mereka yang tak tahu bengisnya media sosial, sudah pasti
akan menjadi target bualannya. Hasutan demi hasutan akan masif dimainkan untuk
sekedar menggiring opini pengguna media yang masih kelewat polos supaya masuk
kedalam perangkapnya.
Jangan sampai jebakan betmen
mereka berhasil memperdaya mindset kita. Seandainya mendapati
informasi-informasi yang dirasa janggal, alangkah lebih baik kita telisiri
dahulu mengenai kebenaran beritanya. Takutnya jika salah menafsirkan, membuat
kita terjerumus pada jalan yang tak semestinya.

0 Komentar