Pemilihan Presiden (Pilpres) sangat menarik untuk disimak karena momen penentuan siapa Presiden Republik Indonesia selanjutnya.
Joko Widodo menjabat sebagai Presiden sampai Oktober 2024. Karena tidak bisa maju lagi sebagai capres dapat dipastikan tahun 2024 nanti bangsa Indonesia akan mempunyai Presiden baru.
Tiga kandidat kuat telah muncul yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Tiga orang ini sudah lama menjadi langganan 3 besar sebagai kandidat capres terkuat.
Seiring dinamika politik yang terjadi ketiga orang ini telah mengalami perkembangan politik masing-masing. Anies Baswedan didukung Partai Nasdem, Demokrat dan PKS. Prabowo disokong penuh oleh Partai Gerindra dan PKB. Terakhir Ganjar Pranowo akhirnya resmi diusung PDI Perjuangan sebagai capres.
Salah satu indikator yang mendapat perhatian tentang capres adalah elektabilitas. Makin tinggi elektabilitas maka makin besar kemungkinan menang di Pilpres nanti. Masing-masing kandidat mengalami fluktuasi nilai elektoral sesuai kejadian politik yang terjadi.
Elektabilitas Ganjar Pranowo dalam beberapa kesempatan terjadi turun naik. Berdasarkan hasil survei terbaru elektabilitas Ganjar sangat mengagetkan. Lembaga survei Charta Politika merilis hasil survei elektabilitas capres 2024 yang membandingkan setelah polemik Piala Dunia U-20 dan deklarasi capres PDIP, Ganjar Pranowo.
Elektabilitas Ganjar sempat anjlok terkait isu Piala Dunia U20. Nilainya cukup drastis dari 37,8% di bulan Februari menuju 31,4%. Jadi turunnya ini 6,4%. Ajaibnya setelah akhirnya PDIP mendeklrasikan Ganjar Pranowo sebagai capres elektabilitas Ganjar melejit.
Ketika survei dilakukan 10 hari setelah deklarasi Ganjar Capres, angkanya melejit menjadi 38,2%, jauh melampaui Prabowo 31,1% artinya ada selisih 7,1%. Mengapa elektabilitas Ganjar bisa melonjak secara ajaib?
Pertama, kecerdasan dan keyakinan Megawati. Pemilihan waktu pengumuman yang tepat tak lepas dari kejeniusan Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan. Momen ini dinilai sangat tepat karena masyarakat sedang melakukan ritual mudik.
Pencapresan Ganjar ini menjadi perbincangan dimana-mana khususnya bagi para pemudik. Di kampung halaman pun mereka terus membicarakan Ganjar yang telah resmi jadi capres dari PDI Perjuangan.
Kedua, keberanian Ganjar yang dengan tegas dan berani menolak kedatangan Timnas Israel di Piala Dunia U20. Pernyataan penolakan ini tentu saja sangat beresiko super tinggi. Resikonya Ganjar akan dibenci oleh para pencinta sepakbola karena Piala Dunia U20 gagal diadakan di Indonesia.
Tapi kemudian kebencian para suporter bola ini segera tertutupi oleh kaum muslim yang menyetujui penolakan tegas Ganjar ini. Sehingga ketika Ganjar telah resmi jadi capres, dukungan datang bergelombang dari kaum muslim yang anti Israel.
Ketiga, respon Ganjar yang elegan. Ketika Ganjar mendapat kecaman dari para pencinta bola dan pihak lain, Ganjar tetap tenang tidak merespon kasar. Kata-katanya tetap santun tidak menyinggung siapapun. Hal ini membuat banyak pihak menjadi simpati.

0 Komentar