Siapa yang tidak kenal dengan Atta Halilintar, youtuber sekaligus artis tersohor di tanah air tercinta. Awal mulanya aku tahu dia, memang karena profesi hitsnya sebagai youtuber. Kemunculannya tahun 2019 lalu mencuri perhatian publik, karena followers di akun youtube Atta yang membludak.
Beberapa penghargaan disabetnya
selama mengemban profesi sebagai youtuber, entah gelar selevel nasional maupun
internasional. Membicarakan youtuber terkenal dari gen Halilintar itu, memang
membuat kepo tentang konten apa yang dibawakan, hingga banyak orang
berbondong-bondong menjadikan channel youtubenya sebagai rujukan.
Tiga tahun yang lalu tepatnya
2020, Atta membeberkan sedikit tentang konten yang selalu dirajut pada channel
youtubenya. Saat itu narasumbernya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Atta
kira pertemuan dan perbincangan mereka bakalan kaku dan sedikit membosankan,
karena bahasannya tidak jauh dari pemerintahan.
Tapi nyatanya semua cair begitu
saja, ketika obrolan mereka ngalor-ngidul dengan banyolan santai dan easy going
nya seorang Ganjar. Suami dari Aurel Hermansyah itu membeberkan, sosok Ganjar
sebagai pejabat yang berbeda dari lainnya.
Ya, seperti yang sudah
diutarakan Atta, bahwa Ganjar ini adalah pemimpin yang bisa merangkul dan
mengayomi masyarakat lintas generasi. Salah satunya gen-z yang juga kebanyakan
menjadi subscriber youtube milik Atta.
Pada beberapa kesempatan,
Ganjar kerap menyampaikan bagaimana kerja media digital dalam kehidupan gen-z
ini. Youtube, instagram, tiktok dan platform lain menjadi tujuan utama gen-z
untuk mengembangkan pergaulannya.
Semua itu berhasil di bongkar
Ganjar dalam peringatan hari pers nasional di Deli Serdang, Sumatera Utara saat
bertemu dengan Olivia, siswa kelas tiga SMA.
Pada kesempatan langka itu,
Olivia menyampaikan beberapa pendapat yang disinggung sang gubernur. Salah
satunya hobi gen-z saat ini, yang gemar berburu promo dan informasi gratis. Apa
lagi kalau bukan lewat media sosial?
Semua bisa diakses mudah dan
praktis hanya dengan smartphone. Dengan packaging informasi yang penuh ragam,
mulai dari video pendek, cerita panjang, meme, komik, dan masih banyak lagi
bentuknya.
Dari situlah Ganjar
menginisiasi digitalisasi buku. Ya, dengan kecanggihan teknologi yang selalu
berkembang seiring bertambahnya zaman, semua dapat dijangkau hanya dengan
kedipan mata.
Seperti digitalisasi buku yang
digencarkan Ganjar tadi. Tidak perlu menenteng buku yang tebal ataupun
berjilid-jilid. Cukup dengan satu smartphone, buku dengan berbagai judul bisa
kita dapatkan.
Olivia berterus terang bahwa
yang ia inginkan adalah kemudahan, gratis dan cepatnya informasi. Sama halnya
dengan remaja sepantara Olivia, mereka ingin kemudahan dalam mengakses
informasi dengan biaya yang ekonomis, dan up to date. Karena dengan semua itu,
mereka bisa menjelajah isi bumi ini, tanpa harus keliling dunia.
Tak jauh beda dengan gaya
kepemimpinan Ganjar, yang terus mengikuti kecanggihan teknologi. Pelan tapi
pasti, bukan hanya sistem yang dimasifkan dengan basis online. Tapi juga
birokrasi di pemerintahan Jateng, yang selalu siap sedia melayani masyarakat
dengan prinsip unggulannya.
Cepat, mudah, dan ekonomis,
adalah prinsip yang menjadi prioritas Ganjar dalam memberikan pelayanan kepada
warganya. Salah satunya memenuhi kebutuhan zaman sekarang tadi, perihal
digitalisasi.
Bermain medsos sudah
dipersilahkan, agar kita tahu perkembangan situasi dan kondisi terkini di
tempat tinggal kita, baik dalam arti secara meluas ataupun lingkup terkecil
kita. Tapi jangan lupa juga untuk memperbanyak literasi, agar tidak mudah
termakan hoax dan berita palsu lainnya.
Karena kalau hal yang
ditakutkan itu terjadi, maka medsos bisa menjadi boomerang bagi diri kita
sendiri. Kalau sudah disalahgunakan, bukannya untung tapi malah buntung. Karena
dapat merugikan sendiri hingga menyeret banyak orang dalam pusara kesalahan di
jagat maya.
Tidak bosan-bosan, Ganjar
selalu menyampaikan pesan itu dimanapun ia berada. Khususnya pada kawula muda
yang terus aktif menggunakan digitalisasi informasi, untuk memenuhi kebutuhan
sehari-harinya.
Selama kepemimpinannya,
gubernur dua periode itu selalu bisa menempatkan diri ketika berhadapan dengan
masyarakatnya dari berbagai kalangan. Salah satunya gen-z yang terus merebut
perhatiannya, untuk terus menciptakan inovasi-inovasi yang membawa mereka pada
kemajuan peradaban terkini.
Cara yang digunakannya pun
bervariatif, mulai dari sharing dan diskusi. Tidak hanya kepada Atta yang
menjadi suksesor youtube, tapi bertukar pikiran menjadi satu wadah untuk
mengetahui apa yang mereka ingin kembangkan.
Ganjar menjadi salah satu
pelopor yang berperan aktif, dalam pertumbuhan gen-z di Jateng. Lewat SMKN
Jateng yang diinisiasinya selama 9 tahun ini, banyak generasi muda bisa show up
di tengah kemajuan dunia.
Mereka datang dari keluarga
kurang mampu, Ganjar memberi fasilitas yang menunjang pendidikan untuk
menyambut cerahnya masa depan gen-z. Tak berhenti disitu, ruang untuk
mengembangkan kreatifitas pun dibangun Ganjar dengan nama milenialnya Hetero
space.
Harapannya dengan keberadaan
ruang untuk menampung aspirasi itu, para milenial bisa mulai mengembangkan
startup, dengan inovasi dan kreativitasnya. Pemimpin satu itu memang beda.
Disaat ada gubernur yang hanya mementingkan pembangunan estetik untuk
berswafoto, Ganjar lebih memilih membangun infrastruktur yang memiliki nilai
manfaat bagi semua warganya.
Bukan yang estetik dan memakan
banyak biaya, tapi memberdayakan yang ada dengan menambah nilai fungsinya.
Ya begitulah sosok Ganjar
Pranowo yang terus mengutamakan urusan warganya, khususnya gen-z tadi yang
menjadi generasi penerus bangsa. Yang akan meneruskan perjuangan kita membawa
negara ini keliling dunia.
Ganjar inilah yang menjadi
perantara generasi milenial untuk meraih cita-cita bangsa. Jika seorang Atta menjulukinya
sebagai pemimpin yang mengayomi dan merangkul lintas generasi, Olivia justru
menjulukinya sebagai pemimpin yang gaul dan mengikuti zaman.

0 Komentar