Gubernur
Jawa Tengah Ganjar Pranowo berupaya mewujudkan ekonomi sirkular di Jateng. Hal
itu sejalan dengan salah satu misi pemerintahan Presiden Joko Widodo yang
mendorong transformasi ekonomi ke arah lebih 'hijau' atau sering disebut dengan
ekonomi sirkular.
Ganjar mengatakan ekonomi sirkular dapat
menyelesaikan beberapa persoalan di masyarakat, khususnya terkait ramah
lingkungan. Hal ini dikarenakan transformasi menuju ekonomi sirkular akan
membawa banyak dampak positif, baik bagi lingkungan serta pertumbuhan berbagai
sektor pembangunan di masa depan.
"Kalau kemudian masyarakat punya problem di
tempatnya masing-masing dan mereka ingin menyelesaikan, ternyata berdasarkan
sumber atau resources yang ada di situ, mereka mampu untuk mengolah kembali,
dan ternyata praktik-praktik baik itu ada. Kita mencoba mendampingi," kata
Ganjar dalam keterangan tertulis, Kamis (15/6/2023).
Ganjar juga telah mengubah paradigma dari sistem
ekonomi, yang sebelumnya menggunakan model linear menjadi ekonomi sirkular. Dia
menambahkan konsep linear masih menerapkan pendekatan 'ambil-pakai-buang'.
Sedangkan ekonomi sirkular merupakan model yang berupaya memperpanjang siklus
hidup dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada, agar dapat
dipakai selama mungkin.
Adapun
potensi sumber daya yang kerap dilakukan dalam ekonomi sirkular ini adalah
panas matahari, gas rawa, geothermal, serta angin dan air. Dari sumber itu,
Ganjar mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT), dalam bentuk geothermal,
PLTS, hingga saluran gas pengganti LPG 3 Kg.
Ganjar mengungkapkan, berdasarkan data yang ada,
jumlah Desa Mandiri Energi (DME) di Jateng saat ini telah berjumlah 2.353 DME.
Seluruh DME itu, terdiri dari 2.167 DME inisiatif, 160 DME berkembang, dan 26
DME mapan.
Selain itu, Ganjar juga berhasil mengatasi
sampah di Jateng. Diketahui, Jateng merupakan provinsi dengan pengurangan
sampah terbesar di Indonesia, dengan volume pengurangan mencapai 1.232.731 ton,
dan tingkat pengelolaan sampah mencapai 63,19 persen.
Angka pengurangan sampah di Jateng lebih tinggi
ketimbang DKI Jakarta yang hanya 812.165 ton, dan Jatim sebanyak 391.740 ton.
Sebagai informasi, Ganjar juga mengimplementasi
ekonomi sirkular dengan perencanaan green economy yang dibuatnya. Dimana Green
economy juga diwujudkan dengan pembangunan rendah karbon (mitigasi perubahan
iklim), dan pembangunan berketahanan iklim.
Atas keberhasilan penerapan ekonomi sirkular,
Pemprov Jateng pun sukses menerima penghargaan perencanaan pembangunan daerah
terbaik dari Bappenas sebanyak tiga kali, di tahun 2019, 2020, dan 2023. Jateng
juga diakui sebagai Provinsi Yang Memulai Inisiasi Awal Untuk Sirkular Ekonomi.
Sementara itu, Kepala Desa Bantar, Kecamatan
Wanayasa, Banjarnegara, Eko Purwanto menyampaikan tempatnya menjadi salah satu
desa mendapat bantuan instalasi gas rawa atau Biogenic Shallow Gas (BSG). Berkat
itu, warganya kini dapat memanfaatkan gas tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
Desa Bantar merupakan desa yang kaya akan gas
rawa yang keluar secara alami sejak zaman purba dengan debit yang stabil. Saat
ini sekitar 100 kepala keluarga dari tiga wilayah RT di desa tersebut
menggunakan gas sebagai pengganti elpiji.
"Alhamdulillah, dengan adanya bantuan
instalasi ini, warga menerima manfaat, salah satunya untuk memasak. Harapan ke
depan, semua warga desa bisa menggunakan gas rawa di rumah," terang Eko.
Ungkapan
senada juga dilontarkan oleh Kepala Desa Tambak, Kabupaten Magelang, Dahlan
mengatakan enam unit digester bawah tanah dibantu oleh Pemprov Jateng. Karena
itu, 80 kepala keluarga di desanya kini dapat memanfaatkan biogas dari limbah
tahu. Bahkan, desa tersebut telah dinobatkan sebagai Desa Mandiri Energi 2022.
Selain itu, Ganjar diketahui juga mendorong
perusahaan-perusahaan di Jateng untuk mendukung kegiatan ekonomi sirkular. Di
antaranya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat oleh Coca-Cola Europacific
Partners, di Desa Randugunting Semarang.
Selanjutnya, ada daur ulang sampah elektronik
oleh Ewaste RJ di Semarang dan Salatiga. Daur ulang sampah ini melalui program
bernama Campaign-Collect-Circulate, yang tersertifikasi KLHK.
Ada juga pemanfaatan ampas produksi menjadi
biomassa, pupuk organik, dan minyak atsiri di PT Sido Muncul, pengolahan
kotoran ternak menjadi energi di Boyolali, dan mengubah limbah menjadi
Refuse-Derived Fuel (RDF) di Cilacap, oleh PT Solusi Bangun Indonesia. Selain
itu, daur ulang kemasan plastik menjadi kemasan baru, yang dilakukan PT
Unilever Cilacap.

0 Komentar