Lucu sekaligus kesal sedang melingkupi hati ibuku dan bapakku, tatkala berbelanja di salah satu supermarket yang digandrungi masyarakat di era modernisasi ini. Positif thinkingku sih karena sekarang ada program go green, jadi mengurangi sampai plastik.
Begitulah sambil menenangkan gerutuan mereka,
agar tidak teringat kejadian itu. Tapi negative thinkingnya kami, ada pada
perlakuan pramuniaga tadi yang kurang sopan kepada customer. Menampilkan wajah
yang mendung plus kata-kata ketus bukanlah perpaduan yang bagus untuk melayani
kami.
Wong kami juga bayar kok tidak minta,
begitulah dongkol kami dalam hati. Yang gratis melayani rakyat saja dengan
sepenuh hati memberikan senyum dalam menjalankan amanahnya, masak dalam profesi
masing-masing kita masih setengah-setengah sih. Padahal profesi itulah yang
menghidupi kita, disana ada berkah yang luar biasa.
Lalu siapa tadi yang memberi contoh agar kita
sepenuh hati dalam melakukan segala hal? Dia adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar
Pranowo. Humor selalu diselipkan dalam perbincangan sehari-harinya. Dengan
orang yang lebih tua, tuturnya penuh keramahan dan pengertian.
Tidak membedaka-bedakan, nyatanya semua
kehangatan selalu melingkupi obrolan yang diusung Ganjar kepada rakyatnya. Pun
dengan orang yang bukan warganya di Jateng, selalu bisa memulai perbincangan
tanpa rasa canggung. Membuat lawan bicaranya nyaman.
Makanya dia ini kerap disebut sebagai pemimpin
dan politisi ulung yang memiliki semua gaya komunikasi. Lewat kemahiran
negosiasi dan diskusi ia dapat memajukan wilayahnya. Tidak hanya dalam
mencarikan keuntungan bagi warganya, semua instansi mampu digandeng untuk
bergotong royong membangun Jateng.
Hal tersebut rasanya tidak dimiliki oleh
setiap pemimpin maupun politisi negeri ini. Seperti halnya Anies Baswedan, yang
hanya memiliki kemampuan beretorika di depan publik saja. Itu pun hasil bualan
yang ada dalam kepalanya.
Makanya sering kita jumpai omongannya yang
berputar seperti gangsingan, tidak to the point. Jarang aku temukan potretnya
berbincang nyaman dengan orang yang lebih tua, ataupun berinteraksi dengan
orang-orang di sekitarnya.
Salah satu alasannya karena dia tidak betah
lama-lama bergumul dengan warganya sendiri. Ya aku bisa membeberkan fakta itu,
karena melihat video yang tersebar di medsos saat capres Nasdem itu berada
dalam kerumunan massa.
Saat tidak ada kamera di sekitarnya, dia
terciduk mengabaikan laki-laki paruh baya yang ingin berjabat tangan dengannya.
Akhlak tidak hanya persoalan bagaimana orang
lain melihat kita bertindak. Tapi bagaimana sikap kita sehari-hari terhadap
orang yang dijumpai. Apalagi titelnya sebagai seorang pejabat dan pemimpin,
akhlak menjadi sorotan penting.
Mengapa aku membawa topik ini dihadapan publik
dengan tokoh percontohan Ganjar dan Anies? Karena dua tokoh tersebut memiliki
akhlak yang bertolak belakang. Semua bisa terlihat, dari apa isi yang
digaungkan masing-masing politisi itu dalam berbagai forum.
Jika Ganjar selalu munyuarakan hal-hal yang
positif di depan audience, tidak dengan Anies yang suka menggelorakan pidato
bermuatan negatif. Jika Anies kerap mengatakan ujaran kebencian dengan fitnah,
sindiran, hingga hoax, Ganjar justru selalu memberi motivasi, ajakan ataupun
seruan untuk sebuah kemajuan.
Dari lisan, rakyat menilai mana pemimpin yang
berakhlak dan mana yang tidak. Beberapa hari yang lalu, tersebar video yang
menampilkan kekontrasan Ganjar dan Anies di depan umum. Saat Ganjar berhenti di
lampu merah jalan besar, ia menyapa pengguna jalan yang sedang bersepeda.
Kaget karena tidak disangka dapat bertemu
dengan Ganjar di jalan raya. Mereka berbincang singkat, tentang sepeda. Si anak
yang kutaksir seumur remaja itu, menghampiri Ganjar yang membuka jendela
mobilnya untuk berjabat tangan. Begitu sampai mobil berjalan, mereka saling
melambaikan tangan.
Interaksi seperti itu juga pernah dijumpai
warganet saat fenomena “om telolet om” booming di negeri ini. Kali ini yang
berperan Anies, saat membuka jendela mobilnya karena ada anak-anak yang
meneriakinya “om telolet om”.
Bukannya menanggapi dengan guyon ataupun
humor, eks gubernur DKI Jakarta itu justru merepon dengan kalimat menohok
“emang, gue om lu!” disertai wajah asam dan galaknya. Dengan pose sombongnya,
Anies langsung menutup jendela mobil karena tunggangannya segera meluncur bebas
membelah jalanan.
Sedikit menggelitik, bukan? Hanya tindakan
kecil, tapi efeknya besar bagi warga yang melihatnya. Dengan berbagai
penampakan yang kutemukan tadi, publik makin sadar dan mengakui bahwa pemimpin
berakhlak menjadi satu privilege untuk mengayomi dan merangkul rakyat.
Jika akhlaknya saja buruk, bagaimana rakyat
bisa mendekat padanya? Bagaimana rakyat bisa bertumpu padanya? Dan bagaimana
juga rakyat bisa berkeluh kesah tentang apa yang sedang mereka hadapi?
Sulit, akan sulit jika akhlak tidak dimiliki
oleh seorang pemimpin. Karena dengan akhlak Ganjar bisa menjalankan amanatnya
dengan baik di Jateng. Sedangkan Anies yang minim akhlak tadi justru
kelimpungan, ketika dihadapkan dengan warganya di luar kemeramen yang mengikutinya.
Sama halnya tadi dengan pramuniaga yang
dijumpai ibuku dan bapakku. Sebagai rakyat saja, mereka melihat attitude pada
orang yang dijumpainya apalagi sekelas pemimpin. Jelas dong kalau mereka akan
melihat pada Ganjar, karena akhlaknya tidak lagi diragukan.

0 Komentar