Berkaca dari Putri Ariani, seorang penyandang tunanetra total sedari lahir yang kini tengah menjadi sorotan publik, lantaran keberhasilannya dalam meraih golden buzzer pada ajang America's Got Talent. Namun dibalik kesuksesan gadis yang akrab di sapa Putri dalam mengharumkan nama Indonesia ini, tak luput dari perjuangan pahit yang telah di arunginya.
Keterbatasan fisik yang di
sandang oleh Putri turut mengundang kisah pilu yang selama ini menderanya.
Bullying, sudah seperti santapan sehari-harinya dalam menjalani kehidupan
layaknya manusia normal tanpa cacat.
Akan tetapi dari keterbatasan
fisik yang dimilikinya itu, tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengasah
kemampuannya dalam bermusik.
Imbas dari jerih payahnya
tersebut, telah menghantarkan Putri yang sebelumnya hanya dipandang sebelah
mata. Namun kini, Putri telah menunjukkan kepada dunia, bahwasannya
keterbatasan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk terus maju dalam meraih
impian.
Orang-orang seperti Putri yang
memiliki kekurangan, baik fisik maupun kognitif hanya perlu mendapat dukungan
serta dorongan dari orang-orang sekitarnya. Mereka tidak butuh apapun selain
kasih sayang dan cinta yang dicurahkan guna menyemangati hidupnya.
Itulah pentingnya kita sebagai
manusia harus bisa dan mampu dalam “memanusiakan manusia.” Jangan pernah sekali
pun kita memandang sebelah mata mengenai orang-orang yang memiliki
keterbatasan.
Keterbatasan bukan berarti
mereka (orang keterbatasan) terus menerus bergantung pada orang lain di
sekitarnya. Namun sebaliknya, mereka malah berusaha bangkit dari keterpurukan.
Sebisa mungkin mereka tidak merepotkan orang lain untuk mengurusinya. Dan
biasanya, orang-orang dengan fisik maupun kognitif normal justru bertindak
manja dan enggan untuk berusaha.
Jangan begitu ya kawan, karena
sejatinya Tuhan telah menciptakan setiap umatnya dengan kelebihan serta
kekurangan masing-masing. Dan kita sebagai mahkluk yang di anugerahi perawakan
lengkap tanpa cacat, sudah seharusnya menghargai dan menghormati antar sesama.
Seperti apa yang dilakukan oleh
Gubernur Jawa Tengah, yang senantiasa merangkul serta mengayomi semua warganya
yang memiliki keterbatasan fisik maupun kognitif. Disabilitas, begitulah cara
orang-orang menyebutnya.
Ganjar Pranowo seorang politisi
ulung yang benar-benar membuat hati warganya terkesima akan tindak-tanduknya
yang sederhana serta ke-uletannya dalam bekerja. Dan sosok tersebutlah yang
getol dalam men-setarakan penyandang disabilitas, baik di wilayah garapannya
maupun tempat-tempat lain yang di pijakinya.
Banyak kisah-kisah menyentuh
hati yang ditumpah ruahkan para penderita disabilitas kepada Ganjar. Misalnya
saja cerita Aman, seorang penyandang disabilitas yang berasal dari Pangandaran.
Meskipun beliau berdomisili di
luar Jawa Tengah, akan tetapi Ganjar tetap terbuka kepada siapapun warga yang
ingin mengunjunginya. Ganjar tidak pernah risih jika ada warga yang hendak
bertamu ke kediamannya, selagi jadwal Ganjar tidak bertubrukkan dengan kegiatan
lainnya. Sebisa mungkin ia akan menemui warganya yang sudah jauh-jauh berkelana
hanya untuk bersua dengannya.
Tak disangka-sangka, ternyata
bertandangnya warga Jawa Barat ke rumah dinas Ganjar yang terletak di Puri
Gedeh tersebut hanyalah sekedar untuk mempertontonkan bakatnya melalui alat
musik berupa gendang miliknya.
Dengan terampil, sosok Aman
mulai menabuh kendangnya dengan suka cita, dirinya juga turut bersenandung ria
dihadapan Ganjar. Tentu saja aktivitas demikian mengundang gejolak haru dalam
relung hati Ganjar. Pun dengan diriku, sebagai audience yang hanya bisa
menyimak saja turut dibuat trenyuh lantaran melihat semangat yang tumbuh dari
seseorang yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya.
Meskipun terkesan sepele, akan
tetapi sebuah perhatian yang dicurahkan Ganjar benar-benar mampu membuat Aman
bahagia. Mungkin peluh yang menetesi dahinya selama menjadi raja jalanan,
terbayar ketika idolanya membuka pintu lebar teruntuk dirinya.
Bentuk kepedulian seorang
Ganjar bukanlah sekedar menatapi keriangan dari warganya saja, melainkan ia
juga turut memberikan full service pada masyarakat penyandang disabilitas.
“Ah pencitraan!” Seandainya
masih ada saja netizen yang menilai seperti itu, biarkan saja. Tak perlu
menanggapinya dengan ngotot, toh begitulah mereka, hanya gemar mengkritiki
tanpa bisa berbuat banyak demi kesejahteraan masyarakat berkebutuhan khusus.
Bukan hanya tahun ini ataupun
tahun lalu saja Ganjar gencar memberikan pelayanan publik bagi disabilitas,
namun sudah terlampau lama eks. DPR RI tersebut memperhatikan akses bagi
pengguna disabilitas.
Ganjar terus berusaha dalam
menghimbau jajarannya, jika seandainya ada pembangunan tempat pelayanan publik,
diwajibkan memiliki akses yang bisa dilalui oleh penyandang disabilitas.
Biarpun penyandang disabilitas bukanlah mayoritas, namun tetap saja mereka juga
memiliki hak yang sama dimata Tuhan dan dunia untuk diperlakukan sebagai mana
mestinya.
Tidak sekedar akses saja yang
ia berikan, namun saat berkunjung di Kota Klaten, dimana kawasan tersebut dikenal
sebagai desa ramah disabilitas. Seperti tamu pada umumnya, yang bersambang
dengan membawa buah tangan maupun kabar yang membahana. Pada kesempatan itu,
Ganjar turut menyalurkan bantuan berupa uang serta perlengkapan lain guna
memberikan kemudahan bagi difabel, seperti kursi roda hingga kaki palsu.
Tak berhenti sampai disitu,
lagi-lagi Ganjar beserta jajaranya juga berupaya untuk memberikan pendampingan
serta pelatihan bagi penyandang disabilitas agar dapat bekerja, layaknya
individu normal pada umumnya.
Akhirnya usaha Pemprov Jateng
pun berbuah hasil. Sudah ribuan pekerja disabilitas di Jawa Tengah terserap
dunia kerja. Bahkan, Kepala Daeranya yakni Ganjar turut menyabet gelar
hattrick, lantaran sudah tiga kali berturut-turut ia meraih penghargaan sebagai
pembina pemenuhan hak disabilitas di dunia kerja Inklusif.
Itulah yang namanya
“memanusiakan manusia.” Tindakan semacam itu tak hanya berlaku dan di
peruntukan bagi pejabat-pejabat saja, namun seluruh insan yang ada di muka bumi
ini juga sudah sepantasnya berperilaku demikian.
Tak ada ruginya kita
memperlakukan mereka (difabel) sebagaimana mestinya. Justru dari kepedulian
yang kita layangkan kepada mereka, malah mendatangkan pahala bagi kita.
Intinya, jangan pernah lelah
dalam melakukan hal kecil untuk orang lain. Terkadang dari hal sekecil apapun
dari kita, mampu membuat mereka tertawa bahagia.

0 Komentar