Ganjar bukan sosok petualang pencari untung, tapi bukan pribadi buntung. Representasi dirinya yang lugas alami dan membumi dipersembahkan demi kesinambungan pembangunan dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Sebagaimana magnet memiliki gaya tarik dan gaya tolak karena dua kutubnya Selatan dan Utara, maka Ganjar akan kuat rekat dengan partai yang punya pemahaman yang setara. Namun, Ganjar bukanlah besi sembarang besi sembrani. Ia bukan pula benda logam yang begitu didekatkan akan mampu menarik yang lain.

Ia adalah sosok dengan kepribadian khas. Unik dan langka. Memang ia sebagaimana kita. Ia terlahir dengan dua mata. Tetapi kita kebanyakan masih sering terbiasa membaca sesuatu dengan cara sebelah mata. Ibarat sebuah nasihat agar kita tidak semata “membaca” sesuatu dari sekadar tampilan sampul luar dengan rangkaian kata yang memikat, karena selain Ganjar bukan buku tetapi bukan juga figur biasa. Karena bukan sosok biasa, maka Ganjar bukan pribadi biasa. Karena bukan entitas biasa, maka Ganjar bukan potret sembarang pesona.

Bahkan menurut konsep multiple intelligence, sebagaimana kecerdasan itu jamak seperti mata bukan saja yang kelihatan tetapi ada mata hati yang tak kasat mata, demikian pula meskipun nama Ganjar itu tak terhingga; namun, istimewanya Ganjar yang satu ini, hanyalah Ganjar Pranowo si rambut putih saja. Karena Ganjar bukanlah sembarang Ganjar – meskipun sekarang masih banyak yang berseberangan kutub menguliti dirinya – ia mempunyai nilai keunikan tersendiri yang ke depan tak lagi dipandang sebelah mata. Apalagi, tambah seksi figur partai, tim dan relawan di belakangnya. Berikut batasan tulisan khusus tentang keunikannya.

Citra Diri yang Kian Kemilau

Gambaran Indonesia sebagai negara maju dengan Pendapatan Perkapita 4.200 USD ke 7.200 USD di tahun 2028 dengan terobosan cemerlang Ibu Megawati dari PDIP mencapreskan Ganjar, sudah terwujud di depan mata sehingga soft landing Jokowi lancar. Orang cepat bernalar, Jokowi dengan rekor kemajuan pembangunannya dapat diestafetkan ke Ganjar. Tepatnya orang bilang, branding is a signal to create associations. Pesona “Ganjar” di benak orang langsung mengarah ke the next president. Gaya Ganjar yang lugas merakyat setara dengan pesona Jokowi. Coba kita tengok cara kerja Jokowi. Ide pemerintah Jokowi menggolkan UU sapu jagat Cipta Kerja misalnya, merupakan alternatif menjawab pasar dan kebutuhan baru di zaman ini untuk berpacu menjadi negara maju. Dalam kurun waktu 5-9 Oktober 2020 (Kompas, 6 Okt 2020), massa dari Serikat Buruh, mahasiswa, organisasi masyarakat dan partai oposisi serta elemen lain, tak kurang dengan spanduk membentang panjang seakan menggagahi ibu pertiwi. Akan tetapi, seramai apa pun yel-yel pekikan penyemangat ribuan pendemo yang berjilid-jilid melawannya dan sepedas apa pun kritikan di meja sidang Mahkamah Konstitusi, pemerintah Jokowi menempuh cara dengan jalan sunyi melalui Perpu. Baru tanggal 21 Maret 2023 lalu Badan Legislasi DPR RI menyetujui Perpu menjadi UU (https://www.ekon.go.id). Itulah satu upaya demi Indonesia sejajar dengan negara maju dengan yang lain, ditambah termasuk proyek-proyek pembangunan yang sedang berjalan dan belum rampung di masa Jokowi yang nanti bisa dikebut Ganjar.

De Facto Pribadi Satu-satunya yang Mendapat Kendaraan Capres

Ganjar bukan sosok petualang politik pencari aman. Elektabilitasnya sempat nyungsep 2% gegara menolak Indonesia menjadi tuan rumah U-20. Tetapi tentu arah bandul politik akan reborn dengan beruntungnya mendapat kendaraan kontestasi pada 21 April lalu di momen emas menjelang mudik meskipun belum resmi terdaftar di KPU karena secara de jure Ganjar baru potensial. Ia belum capres definitif.

Di detik ini Ganjarlah lain dari yang lain. Ia adalah satu-satunya secara de facto yang mendapat kendaraan untuk Pilpres 2024 karena diusung oleh satu-satunya partai yang bisa mencalonkan sendiri tanpa koalisi. Sementara sosok sebelah dari koalisi Perubahan, KBIR dan KIB mesti kompromi dulu untuk mencapai 20% kursi di legislatif. Artinya, Ganjar Pranowo akan potensial menjadi capres definitif. Sementara yang lain alot lantaran masih wait and see sambil ketar-ketir karena liatnya perihal berbagi secuil kue kekuasaan di 2024.

Apalagi, masih ada jeda cukup lama untuk pendaftaran di KPU. Masa yang cukup panjang itu apa pun bisa terjadi yang menyebabkan koalisi sebelah diprediksi bakal bubar atau muncul koalisi baru. Beda dengan Ganjar, posisinya kokoh selama PDIP berdiri di depan. Syukur-syukur partainya mendapat pendongkrak suara koalisi yang bagus. Dalam beberapa hari saja pasca lebaran, Hanura dan PPP ikut digerbongnya. Lokomotif pesona Ganjar kuat sehingga generator magnet barunya mampu menyetrom gerak cepat partai lain yang bakal ikut ketarik ke gerbongnya.

Memikat Hati

Siapa sih yang menampik kehadiran sosok yang sarat bermuatan aura positif yang diuraikan di atas? Justru kehadiran Ganjar menjadi berkah yang memikat hati. Kehadirannya di jagad perpolitikan nasional membuat Indonesia teduh aman dan memikat hampir semua golongan dan strata sosial mana pun. Utamanya pribadinya yang lugas-selaras dengan ideologi PDIP yang menjadi simbol keberagaman dan keberpihakan wong cilik serta sengit dengan segala jenis radikalis.

Sengit Melawan Kongkalikong Kapital Liberal

Jika merunut ke riwayat Ganjar yang lahir dari rakyat biasa, bukan dari darah biru, maka logislah kacang tak melupakan kulitnya. Ia anak kelima dari enam bersaudara di keluarga polisi sederhana. Pergaulannya dengan masyarakat biasa yang penuh dengan keruwetan hidup itu hal biasa. Maka ia tahu problem dan solusi rakyat biasa. Bukan mimpi yang mengawang, ia realistis. Ia terjun ke petualangan politik dengan dimulai aktif di GMNI zaman Orde Baru dan masuk PDI dengan banyak penugasan di legislatif dan eksekutif. Di sana ia digodok untuk mengimplementasi solusi. Misalnya tentang problem petani. Dari data lapangan dan BPN 2010, bahwa sekitar 0,2% rakyat Indonesia mencaplok 56% seluruh asset nasional yang 87% di antaranya asset itu berupa tanah. Malah 7,2% juta hektar tanah swasta ditelantarkan. Sementara 85% petani Indonesia itu petani gurem, termasuk petani Kendal Jateng, alias tak bertanah karena hanya sebagai buruh tani (Kompas, 14/1/2012).

Pembentukan Bank Tanah misalnya yang termuat di UU Cipta Kerja justru sangat dekat kaitannya dengan konsep negara kesejahteraan (welfare state) yang tertuang di Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Benang merahnya tak lain adalah kemitraan atau kolaborasi, bukan kapitalisasi. Kenapa? Karena, “kapitalisasi” itu menggiring opini bahwa Bank Tanah dapat menjadi alat negara untuk dapat menguasai dan mengambil tanah masyarakat/adat. Wacana ini justru menghidupkan kembali domein verklaring seperti di masa penjajahan dulu, lantaran Bank Tanah hanya sekadar dianggap mempermudah investor dan mengesampingkan rakyat. Jangan sampai masalah ini akan menciptakan pertentangan antara Bank Tanah dengan konsep negara kesejahteraan di mana pelayanan sosial negara diabaikan. Hindarkan ekses kapitalisasi. Kapitalisasi adalah sebuah penguasaan tanah oleh badan usaha swasta dalam skala luas untuk praktik spekulasi patgulipat, permainan curang yang sifatnya kongkalikong (sembunyi-sembunyi). Praktik ini hanya cari untung semata karena tanah dibeli saat harga murah dan dijual kembali 10-20 tahun kemudian saat harga sudah tinggi. Negara kesejahteraan ala Indonesia justru mengedepankan kolaborasi, kemitraan dan pemberdayaan (empowerment) masyarakat lokal, yakni masyarakat adat agar mendapat hasil dari tanah tersebut sehingga tanah dari Bank Tanah dapat menyejahterakan mereka. Justru dengan cara ini akan membuka lapangan kerja yang luas bagi anak muda untuk kembali membangun daerahnya. Demikian juga penyelesaian tanah Wadas dan Bendungan Bener dengan memberi ruang partisipasi, dengar pendapat dan kebijakan yang menguntungkan warga adalah contoh solusi Ganjar yang cespleng (Radarsolo-Jawapos, 11Nov 2022).

Berlian di Tengah Lumpur

Proses Ibu Mega dan Pak Jokowi menemukan sosok Ganjar yang baik dan hebat (good to great) bukanlah secepat membalik tangan. Ganjar bukan comotan seperti partai lain. Untuk mengkader sendiri jadi sosok superior butuh waktu. Selain waktu, pro dan kontra tumbuh seiring dengan tumbuh-kembangnya kedewasaan demokrasi. Untuk menemukan sosok unik dan tangguh itu seperti menanam benih kebaikan. Musikus Didi Kempot (2016) dalam albumnya bilang: Tak tandur pari, jebul tukule malah suket teki (Yang aku tanam padi, ternyata yang tumbuh justru rumput teki). Ketika tiba panen padi yang dinanti, justru panen cercaan datang tiada henti. Di tengah menanam kebajikan, harapan akan menuai berkah tetapi yang muncul justru setitik musibah. Hanya sebaliknya, ketika orang menanam keburukan, akan mustahil (tangeh lamun) tumbuh kebaikan.

Jika rumput teki bukan padi dan Ganjar bukan sosok petarung buntung, maka dalam konteks ini demi terwujudnya pembangunan, pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umum, kehadiran Ganjar sebagai tunas baru merupakan sebuah keniscayaan. Simpelnya, Ganjar itu seperti berlian. Sekalipun berlian tercebur di comberan lumpur, ia tetap menorehkan cahaya terang.

Semoga cahaya kian terang. Rakyat NKRI jadi sejahtera sebagaimana termaktub di Pembukaan UUD 1945. Segeralah terwujud, Indonesia setara dengan negara kelas dunia. Lantas, adakah keunikan lain dari sosok Ganjar ini?